Selasa, 21-10-2014 RSS Berita Resmi Statistik     Peta Situs English Bahasa Indonesia
 

Daftar Link
  BPS Republik Indonesia
  Pemprov Kalsel
  STIS
  Metadata
  Master File Desa

Statistik Situs
  Total Seluruh Pengunjung :
327069
  Total Pengunjung Bulan Ini :
7138
  Total Pengunjung Bulan Lalu :
10265
  Total Pengunjung Hari Ini :
45
  Total Pengunjung Online :
17
Artikel dan Tulisan
PERTUMBUHAN PENDUDUK VS KETERSEDIAAN PANGAN

Oleh : Tito Raditya Arya Wicaksono, S.Si
             Thomas Robert Malthus menyebutkan dalam teorinya bahwa pertumbuhan penduduk akan selalu mengikuti deret ukur, sedangkan ketersediaan pangan akan mengikuti deret hitung. Teori tersebut terkenal dengan teori ledakan penduduk di wilayah perkotaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan. Namun teori tersebut tidak seluruhnya benar dan mendapat banyak sekali bantahan. Kelemahan dari teori yang kemukakan oleh Malthus tersebut, salah satunya adalah tidak mempertimbangkan kemajuan teknologi pertanian yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

 

Merefleksikan teori Malthus tersebut, bagaimana dengan kondisi pertumbuhan penduduk dan ketersediaan pangan di Kalimantan Selatan?

 

Kondisi penduduk di Kalsel berdasarkan data BPS tahun 2005 berjumlah 3.271.413 jiwa kemudian pada tahun 2009 meningkat menjadi 3.496.125 jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk per-tahun mencapai 1,58%. Pertumbuhan penduduk terbesar terjadi di Banjarbaru dengan pertumbuhan 3,05% per-tahun, disusul oleh Banjarmasin dengan pertumbuhan 2,11% per-tahun. Sedangkan untuk pertumbuhan penduduk paling kecil terdapat di Balangan dengan pertumbuhan penduduk per-tahun hanya mencapai 0,55%.

 

Tabel 01. Jumlah, Pertumbuhan, dan Kepadatan Penduduk

Menurut  Kabupaten di Kalimantan Selatan

No.

Kabupaten/Kota

Luas

(km2)

Jumlah Penduduk (jiwa)

Pertumbuhan

(%/tahun)

Kepadatan

(jiwa/km2)

Tahun 2005

Tahun 2009

1.

Tanah Laut

3.729,30

255.188

274.526

1,89

74

2.

Kota Baru

9.422,73

261.104

281.120

1,92

30

3.

Banjar

4.710,97

459.748

498.088

2,08

106

4.

Barito Kuala

2.376,22

258.682

275.145

1,59

116

5.

Tapin

2.174,95

149.332

154.005

0,78

71

6.

Hulu Sungai Selatan

1.804,94

203.635

209.669

0,74

116

7.

Hulu Sungai Tengah

1.472,00

236.021

246.120

1,07

167

8.

Hulu Sungai Utara

951,25

209.107

218.109

1,08

229

9.

Tabalong

3.599,95

185.889

195.114

1,24

54

10.

Tanah Bumbu

5.066,96

210.287

231.135

2,48

46

11.

Balangan

1.819,75

100.466

102.696

0,55

56

12.

Banjarmasin

72,67

589.115

638.902

2,11

8.792

13.

Banjarbaru

328,83

152.839

171.496

3,05

522

JUMLAH

37.530,52

3.271.413

3.496.125

1,58

93,00

 

Sumber: Publikasi BPS, Kalimantan Selatan Dalam Angka Tahun 2010

 

Tingkat kepadatan penduduk terbesar terdapat di Banjarmasin dengan kepadatan penduduk mencapai 8.792 jiwa/km2, kemudian disusul oleh Banjarbaru yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 522 jiwa/km2. Sedangkan untuk tingkat kepadatan terendah terdapat di Kota Baru yang hanya sebesar 30 jiwa/km2. Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru yang memiliki tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk terbesar dibandingkan dengan lainya, telah menempatkan dua wilayah tersebut menjadi wilayah yang berisiko mengalami ledakan penduduk.

 

Walaupun pertumbuhan penduduk dan angka kepadatan penduduk di Kalsel relatif meningkat, namun upaya pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan bisa dibilang cukup berhasil. Peningkatan bahan pangan terutama untuk hasil produksi padi di Kalsel bisa dikatakan lebih dari cukup. Program yang sudah digalakkan oleh pemerintah diantaranya adalah pembentukan Desa Mandiri Pangan, Pembangunan Lumbung Pangan, Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) dan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (P-LDMP). Upaya yang telah dicanangkan oleh pemerintah tersebut telah menggugurkan teori yang dikemukakan oleh Malthus, karena sebesar apapun peningkatan jumlah penduduk di Kalsel maka pemerintah tetap mampu menyediakan bahan panangan.

 

Tabel 02. Luas Panen, Produksi, dan Hasil Padi Sawah Serta Padi Ladang

Menurut  Kabupaten di Kalimantan Selatan

 

No.

Kabupaten/Kota

Tahun 2005

Tahun 2009

Luas Panen

(Ha)

Produksi

(Ton)

Hasil/Ha

(Kw/Ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi

(Ton)

Hasil/Ha

(Kw/Ha)

1

Tanah Laut

37.582

122.413

32,57

40.247

129.820

32,26

2

Kota Baru

20.723

64.695

31,22

26.531

97.344

36,69

3

Banjar

70.939

239.602

33,78

69.183

221.405

32,00

4

Barito Kuala

86.589

279.091

32,23

91.197

317.605

34,83

5

Tapin

53.755

197.985

36,83

59.947

254.506

42,46

6

Hulu Sungai Selatan

43.059

161.982

37,62

44.793

211.153

47,14

7

Hulu Sungai Tengah

35.023

132.837

37,93

44.028

208.943

47,46

8

Hulu Sungai Utara

25.103

98.181

39,11

29.833

174.842

58,61

9

Tabalong

34.307

126.193

36,78

32.780

144.370

44,04

10

Tanah Bumbu

20.797

67.045

32,24

17.446

79.448

45,54

11

Balangan

26.771

92.363

34,50

29.941

103.826

34,68

12

Banjarmasin

1.710

5.692

33,29

1.580

5.274

33,38

13

Banjarbaru

3.183

10.756

33,79

2.563

8.455

32,99

JUMLAH

459.541

1.598.835

34,76

490.069

1.956.991

40,16

 

Sumber: Publikasi BPS, Kalimantan Selatan Dalam Angka Tahun 2010

 

Komoditi bahan pangan terutama untuk produktivitas padi di Kalsel tahun 2005-2009 memang cukup menggembirakan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan luas panen yang hanya 459.541 ha pada tahun 2005 telah meningkat menjadi 490.069 ha pada tahun 2009, atau peningkatan rata-ratanya sebesar 6,64%. Peningkatan luas panen yang terbesar terjadi di Kota Baru dengan peningkatan mencapai 28,03%. Peningkatan terbesar kedua terjadi di Hulu Sungai Tengah yang meningkat sebesar 25,71%. Namun terjadi juga penurunan luas panen, dengan penurunan terbesar terjadi di Banjarbaru yaitu sebesar -19,48% dan di Kabupaten Tanah Bumbu sebesar -16,11%. Berkurangnya luas panen disebabkan lahan pertanian mengalami gagal panen karena diserang hama atau perubahan cuaca yang ekstrim. Penurunan luas panen juga disebabkan adanya konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian.

 

Produktvitas padi, baik dari padi sawah dan padi ladang pada tahun 2005 adalah sebesar 34,76 kw/ha telah meningkat menjadi 40,16 kw/ha pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan pula bahwa telah terjadi peningkatan rata-rata sebesar 15,53% atau sebesar 3,88% per-tahun. Penyuplai hasil padi terbesar dari tahun 2005-2009 yaitu dari Hulu Sungai Utara dengan peningkatan sebesar 49,85% atau 12,46% per-tahun. Penyuplai terbesar kedua adalah Tanah Bumbu dengan peningkatan produktivitas padi sebesar 41,26% atau 10,32% per-tahun. Namun pada beberapa wilayah juga mengalami penurunan diantaranya adalah di Tanah Laut, Banjar, dan Banjarbaru. Penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Banjar yang turun sebesar -5,25 % kemudian disusul dengan penurunan yang terjadi di Banjarbaru yang menurun sebesar -2,38%.

 

Walaupun saat ini untuk provinsi Kalsel memiliki produktivitas padi yang sangat menggembirakan, namun perlu diperhatikan juga bahwa pada beberapa wilayah mengalami penurunan produktivitas. Seperti telah diuraikan sebelumnya di Banjar dan Banjarbaru mengalami penurunan produktivitas padi yang salah satunya disebabkan oleh berkurangnya lahan pertanian. Berdasarkan data tahun 2005 untuk Banjurbaru produksi padi juga berasal dari padi ladang dengan kontribusi sebesar 40,30% dari total produktivitas padi pada tahun tersebut. Namun pada tahun 2009 produktivitas padi hanya berasal dari padi sawah. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi konversi lahan pertanian (lading) menjadi lahan non-pertanian khususnya pemukiman.

 

Selain Banjarbaru, berdasarkan data tahun 2009 tedapat tiga wilayah lainnya yang memiliki produktivitas padi hanya berasal dari padi sawah saja. Dari ketiga wilayah tersebut adalah Barito Kuala, Hulu Sungai Utara, dan Banjarmasin. Memang untuk Banjarbaru dan Banjarmasin tidak diprioritaskan sebagai penghasil padi. Tetapi perlu dipertimbangkan bahwa pertumbuhan penduduk yang menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk akan memaksa terjadinya konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian. Terjadinya konversi lahan pertanian ini dikawatirkan akan menyebabkan berkurangnya produktivitas padi. Sehingga diharapkan adanya penanganan lebih dini untuk menjaga agar ketahanan pangan khususnya untuk produktivitas padi di Kalsel dapat tetap dijaga.

 


  Hits (10460)    Waktu :12-05-2011 (22:24:55)   Komentar (4)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Pengirim : epkushadi@bps.go.id
Hari : Selasa, Tanggal : 13-12-2011, Waktu : 10:32:06
Komentar : mas, nampilin peta tematiknya ke web gmn caranya? trs peta tematiknya kok cm 1 tema aj :)

Pengirim : riand_z@yahoo.Co.id
Hari : Jumat, Tanggal : 22-02-2013, Waktu : 22:53:39
Komentar : gak nyambung deh jawabanya, penjabaran tentang kelemahan teori Malthus hanya di pembukaan saja. seterusnya mah itu tentang KALSEL bray !!!!

Pengirim : riand_z@yahoo.Co.id
Hari : Jumat, Tanggal : 22-02-2013, Waktu : 22:56:22
Komentar : tapi tetep keren deh forza masyarakat Kalsel! semoga semakin maju

Pengirim : dedy_et_bps_goit@yahoo.com
Hari : Jumat, Tanggal : 28-02-2014, Waktu : 13:42:18
Komentar : semangat mas Ntit!!

Hal  
1